Catatan Hidayat th ini
berbicara sekali ingat, menulis sehari ingat, dan mengamalkan selamanya ingat.
adakah hal yang melebihi hal seperti itu. tapi hamba paham akan kerasnya hidup ini dan kita tidak mungkin hidup untuk berhura-hura ria atau berpandai-pandai namun sadarkah kalian bahwa hidup ini tidak seperti dunia fantasi yang bisa kalian rencanakan dan kalian mainkan. karena sesuatu hal besar akan terjadi dalam semesta ini galaksi bima sakti bukanalah tempat kita bernaung tetapi melainkan adalah tempat kita untuk menata perkara yang akan kita rasakan dikemudian hari. kesenangan dunia tidak akan sebanding dengan kesenangan yang dijanjikan Allah. rasa senang, bahagia dengan orang yang kita sayang, canda tawa bersama teman sejuang, berbagi kasih dengan orang kita sayangi. semua itu hanyalah gurauan semata yang selalu kalian dambakan. akankah kalian sadar bahwa tuhan-Mu itu selalu mengawasi kalian yang sedang melakukan kegiatan, everytime! everywhere ! kesalahan akan dibalas dengan terperinci diwaktu yang sudah ditentukan. hari ini saya tertegun mengapa mesti mementingkan kesenangan kita bersama orang lain yang melainkan hanyalah muslihat dunia maya. angin berhembus seraya kita menghirup udara segar yang diciptakan tuhan dan kalian tak mampu untuk membalasnya. kita semua adalah ciptaan sempurna yang tak sanggup menciptakan kesempurnaan dalam hidup. mereka mengabaikan panggilan-Nya hanya demi kepentingan di alam mayapada ini dan itu adalah kebiasaan tabiat kami yang bisa disebut buruk oleh sebagian orang. spirit untuk tujuan kita bukanlah sekedar statment yang bisa kau hiraukan begitu saja.
Catha
Selasa, 28 April 2015
Jati Diri Dalam Islam
Ada seorang teman perempuan saya yang bertanya mengenai arti dari jati diri dan bagaimana cara mencari
jati diri? Mungkinkah Anda telah menemukan jati diri Anda sendiri?
Atau hinga saat ini masih mencarinya? Memang tak sedikit orang yang masih
bingung tentang konsep jati diri dalam Islam. Maka dari itu
ada yang disebut istilah mencari jati diri.
Terlepas
apakah Anda telah menemukannya ataupun belum, maka perlu untuk di pertimbangkan
lagi, apakah konsep jati diri kita ini sudah benar atau belum? Jika
salah, sangat berbahaya! Sebab semua tindakan kita nantinya akan berlandaskan
pada konsep jati diri kita sendiri. Jika salah, tentu tindakan dan juga
perilaku kita akan salah. Kita sendiri bisa celaka, baik di dunia ataupun di
akhirat.
Kenali Jati Diri?
Ada yang
menyebutkan bahwa jati diri itu adalah karakter dasar,
Ada yang mengatakan itu adalah kamu sesungguhnya, ada juga yang yang bilang
bahwa seseorang akan menemukan jati diri itu seiring semakin de-wasanya kita.
Mungkin ucapan seperti ini ada benarnya juga, karena Jati diri sendiri
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sifat seseorang yang muncul dengan
sendirinya sejak saat dari kecil, kemudian sifat bawaan dari kecil itu kadang
juga terpengaruh dengan berbagai faktor seperti faktor lingkungan tempat dia
dibesarkan. Jati diri adalah identitas seseorang yang jelas sehingga
siapa pun tahu tentang orang tersebut. Sering kali orang memberikan definisi
dari jati diri berdasarkan jawaban dari 3 buah pertanyaan ini:
- Siapa aku?
- Dari mana aku?
- Dan aku mau kemana?
Ya, ketiga
pertanyaan ini memerlukan pemikiran yang mendalam untuk dapat mengetahui
jawaban yang benar. Tidak sedikit juga orang yang masih saja kebingungan dan
akhirnya dia melupakan untuk menjawab 3 pertanyaan ini. Mereka berfikir yang
penting jalani saja hidup ini.
Tentang Jati Diri?
Apakah kita
perlu ‘meributkan’ tentang jati diri ini? Ya, tentu saja kita perlu memahami
siapa diri kita ini. Jika tidak, untuk apa kita hidup di dunia? Hidup kita
nantinya akan tanpa arah, tidak bermakna, tanpa memiliki arti. Sebab, bagaimana
kita bisa mempunyai hidup
yang bermakna sementara kita sendiri tidak mengetahui siapa diri
kita dan mau kemana kita nantinya.
Jadi jelas
jawabannya bahwa kita tidak boleh mengabaikan penemuan jati diri ini,
kecuali Anda ingin menjalani hidup hampa yang berlalu tanpa makna sama sekali.
Apakah Jati
Diri Membahas Tentang Minat dan Bakat Kita?
Tentu saja
kita dapat memahami bahwa kita sebenarnya mempunyai keunikan masing-masing.
Tidak pernah berhenti mencari kelebihan dan potensi unik
kita tentu merupakan hal penting dalam kehidupan kita sendiri. Namun, yang kita
butuhkan sebenarnya tidak sebatas hanya menemukan sebuah bakat spesial kita
saja. Kita juga tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa orang yang sudah sukses
itu berarti sudah menemukan jati dirinya.
Bagaimana Cara
Mencari Jati Diri?
Tidak ada
seorangpun yang lebih mengetahui diri kita ini selain Dzat yang telah menciptakan
kita, yaitu Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Jika hanya Allah yang
paling mengetahui tentang diri kita, mengapa kita harus mencari dan menemukan
makna jati diri dari selain Dia? Mengapa hidup kita harus dikendalikan oleh
berbagai konsep jati diri yang bukan bersumber dari Allah? Ini memang
termasuk hal yang sangat penting, sebab hanya dari Allah saja kita akan
menemukan segala jawaban yang paling tepat, dijamin kita tidak akan salah
sehingga hidup kita ini akan lebih bermakna.
Tentu saja,
kita tetap boleh (bahkan harus) untuk selalu terus menggali bakat serta potensi
kita. Yang ditekankan disini, bahwa jati diri bukan hanya sebatas itu saja. Itu
merupakan keunikan Anda, bukan jati diri Anda.
Jati Diri
Manusia Sesungguhnya
Siapa Aku?
Manusia adalah makhluk Allah yang terbuat dari tanah dan kemudian diberikan ruh
oleh Allah. Kemudian manusia juga dilengkapi dengan sebuah potensi hati, akal
dan juga jasad. Hati dan akal merupakan 2 potensi yang menyebabkan manusia
mempunyai kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan makhluk Allah
lainnya.
Yang
menjadikan segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan juga Yang
memulai penciptaan manusia dari saripati tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunan manusia dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan
juga meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan untuk kamu
pendengaran, penglihatan dan jugahati; (tetapi) sedikit sekali dari kalianbersyukur.
(QS As Sajdah:7-9)
Dan
(ingatlah), saat Tuhanmu berfirman pada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan
menciptakan seorang manusia dari tanah liat yang kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang dibentuk. Demikian dalam QS. Al Hijr ayat 28.
Untuk Apa Aku
Ada?
Ada 2 tujuan
dalam penciptaan manusia yang saling berkaitan yaitu dijadikan khalifah dimuka
bumi ini dan untuk beribadah kepada Allah swt. Tidak ada tujuan lain selain
kedua hal tadi. Semua aktivitas dan segala tindakan yang kita lakukan semuanya
harus bertujuan dalam rangka kedua peran kita ini. Sebagai khalifah dan juga
sebagai hamba Allah.
Untuk itu,
Allah telah memberi kita semua dengan berbagai potensi yaitu hati, akal, dan
juga jasa yang cukup untuk memikul kedua tugas ini. Selama kita dapat
memanfaatkan semua potensi yang kita punyai, kedua tugas ini pasti akan
terlaksana dengan baik.
Dalam Al-Quran
surat Ad-dzariyat ayat 56 Allah berfirman : Dan tidaklah Aku menciptakan jin
dan juga manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.
Allah juga
berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 30: Ingatlah saat Tuhanmu berfirman pada
para Malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Mereka bertanya: Mengapa Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi orang
yang akan berbuat kerusakan padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami
selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan juga mensucikan Engkau? Allah
berfirman: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.
Akan Kemana
Aku?
Kita bukan hanya
berproses dari bayi menuju anak-anak. Bukan hanya anak-anak menuju remaja.
Bukan hanya remaja menuju de-wasa. Bukan pula hanya de-wasa menuju tua.
Seungguhnya, tujuan yang pasti bagi setiap manusia itu adalah desa akhirat. Dan
hanya ada dua pilihan saat kita pulang ke kampung akhirat, yaitu surga (Al
Jannah) atau neraka (An-Naar).
Kita akan
memilih yang mana? Tentu saja, setiap orang yang beriman pasti berharap
mendapatkan balasan surga dari Allah. Syaratnya ialah hidup kita harus sesuai
dengan tujuan akan keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan juga beribadah
pada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS As Sajdah:19-20:
Adapun
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka surga sebagai
tempat tinggalnya, sebagai pahala bagi apa yang telah mereka kerjakan. Dan
adapun bagi orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka ialah neraka
jahannam. Setiap kali mereka ingin keluar dari neraka, mereka dikembalikan lagi
ke dalamnya dan dikatakan pada merekaRasakanlah siksa api neraka yang dulu kamu
mendustakannya.
Kesimpulan
Mudah-mudahan,
setelah kita bisa memahami siapa kita sebenarnya, mengapa kita adadi dunia ini
dan mau kemana kita nantinya, pikiran kita tidak akan galau lagi karena
bingung dengan arti dan cara menemukan jati diri dalam Islam. Kini sudah jelas,
apa yang harus kita jalani dan bagaimana konsekuensinya ke depan. Kita mesti
selalu ingat bagaimana kita diciptakan, kita diciptakan dari sesuatu yang hina
dan keluar dari tempat ‘yang kita sendiri malu untuk menyebutkannya’, tidak
lain agar kita tidak sombong dan melupakan siapa kita. Karena sombong adalah
sifat Iblis yang menyebabkannya terusir dari surga dan terlaknat selamanya.
Selain itu,
kita juga harus selalu mengingat tujuan kita agar sekecil apapun perbuatan kita
selalu mempunyai niat untuk tujuan ibadah, agar kita bisa mencegah diri sendiri
dari berbagai perbuatan yang tidak bernilai apalagi perbuatan maksiat, dan
tentu saja kita akan selalu berbuat baik. Firman Allah dalam surat Al-hasyr
ayat 18:
Duhai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian pada Allah dan hendaklah setiap
diri itu memperhatikan apa yang sudah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)
dan bertakwalah pada Allah, sesungguh Allah Maha Mengetahui apa saja yang kamu
kerjakan.
Langganan:
Postingan (Atom)


