Intusisi
Intuisi adalah istilah untuk kemampuan
memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas.
Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar
kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca
sebuah buku.
Ternyata, di dalam buku itu ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama
bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat,
ternyata di sana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, intuisi
banyak membantu kita untuk memutuskan suatu perkara. Bukan hanya orang-orang
awam seperti kita saja yang menggunakan intuisi. Banyak literatur menyebutkan
bahwa para ahli seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, dan Dimitri
Mendeleyev juga menggunakan intuisi untuk kepentingan eksperimen mereka.
Dalam
kamus online bahasa Inggris Miriam Webster, intuisi adalah “A natural
ability or power that makes it possible to know something without any proof or
evidence.” Intuisi adalah kemampuan alami atau kekuatan yang dengannya
seseorang mengetahui sesuatu tanpa pembuktian. Dalam kamus online Oxford,
intuisi didefinisikan sebagai “The ability to understand something
instinctively, without the need for conscious reasoning.” Intuisi adalah
kemampuan untuk memahami sesuatu secara naluriah, tanpa membutuhkan
rasionalisasi sadar.
Dari
dua definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa intuisi adalah kemampuan
untuk mengetahui suatu hal tanpa perlu berpikir; Pengetahuan yang datang
tiba-tiba tanpa perlu dipikirkan terlebih dulu.
Rasional atau
Mistis?
Sebelum
penelitian yang dilakukan oleh para pakar psikologi, intuisi dianggap sebagai
pengetahuan yang bersifat klenik. Intuisi dipandang sebagai anugerah istimewa
yang diberikan hanya kepada orang-orang tertentu. Dalam pengertian klenik
seperti ini, intuisi sama artinya dengan ilham atau wangsit. Selain itu,
intuisi dipahami sebagai pengetahuan yang kebenarannya 100% akurat.
Pemahaman
berubah ketika intuisi mulai diteliti secara ilmiah. Banyak penelitian yang
dilakukan oleh pakar psikologi menyimpulkan bahwa intuisi bukanlah hal yang
klenik. Menurut para pakar itu, sumber intuisi berasal dari pikiran bawah sadar
manusia.
Munculnya
Intuisi
Tentang intuisi, Albert Einstien berkata, “Intuition
is nothing but the outcome of earlier intellectual experience,” yakni bahwa
intuisi merupakan hasil dari pengalaman intelektual yang terjadi sebelumnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh pakar psikologi dari Amerika Serikat Herbert
A. Simon. Menurutnya, intuisi tak lain merupakan kesadaran bahwa sesuatu yang
dialami pernah dikenali atau dipelajari sebelumnya.
Untuk mempermudah penjelasannya, perhatikan
contoh berikut.
Pada
cerita di paragraf awal, Anda memutuskan untuk membatalkan janji dengan
pasangan saat Anda melihat pelangi di langit. Kita tahu bahwa Anda membatalkan
janji itu karena ada perasaan yang mengganjal tentang pelangi. Nah, perasaan
itu merupakan sebuah intuisi yang memberi pesan kepada Anda untuk tidak pergi.
Intuisi
itu sebenarnya bukanlah pesan yang diembuskan oleh makhluk mistis kepada Anda,
melainkan pesan yang berasal dari pikiran bawah sadar Anda.
Masih
ingat, kan, mengenai pikiran bawah sadar? Pikiran bawah sadar merupakan
gudang penyimpanan memori dan sistem kepercayaan (unsur agama), di mana sumber
daripada memori dan sistem kepercayaan itu adalah informasi yang ditangkap oleh
pancaindra.
Memori
ini menetap selamanya di dalam pikiran bawah sadar. Nah, saat kita mengalami
suatu peristiwa, otak kita memilah-milah informasi (yang tersimpan di dalam
pikiran bawah sadar) yang paling identik dengan peristiwa itu. Informasi yang
terpilih pada akhirnya muncul dalam pikiran sadar kita sebagai intuisi. Jadi,
intuisi merupakan memori yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar kita yang
tiba-tiba muncul ke permukaan (pikiran sadar) sebagai respons dari otak kita
saat mengalami suatu kejadian yang hampir serupa dengan memori tersebut.
Mekanisme
munculnya intuisi adalah melalui asosiasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Dalam Jaringan (Daring), asosiasi berarti “Pembentukan atau pertalian antara
gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra.” Sementara itu, dalam kamus
online Oxford, asosiasi diartikan, “The action of making a mental connection,”
yaitu bahwa asosiasi adalah tindakan membuat sebuah hubungan mental. Sehubungan
dengan definisi ini, kamus Oxford memberikan contoh, “There is nothing new
in the association of fasting with spirituality.” Tidak ada yang baru dalam
mengasosiasikan puasa dengan spiritualitas.
Nah,
dari dua definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa asosiasi adalah
mengidentikkan suatu hal dengan hal lainnya.
Dalam
contoh tentang pelangi, intuisi terjadi saat otak Anda mengasosiasikan pelangi
dengan memori bawah sadar Anda. Memori apakah itu? Dalam contoh di atas, memori
itu adalah memori tentang ‘hujan’. Jadi, ketika melihat pelangi, otak Anda
memilah-milah memori di dalam bawah sadar Anda yang paling pas untuk
diasosiasikan dengan pelangi.
Karena
kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan pelangi adalah hujan, maka
intuisi yang muncul di dalam pikiran sadar Anda pun berupa pesan akan
terjadinya hujan.
Pesan
ini merupakan petunjuk bagi Anda untuk membuat keputusan, apakah Anda pergi
dengan pasangan Anda atau membatalkan janji itu.
Nah,
dari uraian di atas, kita dapat meringkasnya seperti ini: Intuisi terjadi
melalui mekanisme asosiasi. Apa saja yang diasosiasikan? Yang diasosiasikan
adalah peristiwa yang sedang kita alami dengan memori bawah sadar yang identik
atau hampir mirip dengan peristiwa itu. Identik maksudnya adalah memiliki pola
(pattern) yang sama. Jadi, ada kesamaan pola antara peristiwa yang
sedang kita alami dengan memori tertentu di dalam pikiran bawah sadar kita.
Intuisi dan
Pikiran Sadar
Terakhir,
karena intuisi tidak selalu benar atau dalam kata lain, kadang-kadang akurat,
kadang-kadang meleset, para ahli menyarankan agar kita menguji intuisi dengan pikiran
sadar. Sebagai contoh, saat kita terjepit dalam suatu masalah. Tiba-tiba muncul
intuisi yang memberikan petunjuk kepada kita. Jangan langsung mempercayai
intuisi itu, karena bisa jadi ia tidak akurat. Ujilah intuisi tersebut dengan
pikiran sadar. Periksa apakah intuisi itu logis atau tidak.
Oya, jika ada yang perlu ditanyakan, atau ada
kritik dan saran, silakan berikan komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar